YANG MAU NGHADAPIN UNAS, WAJIB BACA! ^^

Buat teman-temanku tercinta yang mau nghadapin UNAS di seluruh pelosok tanah air.

Apakah kalian lagi stres?

Depresi?

Pusing?

Takut?

Sebel sama try out yang bertubi-tubi?

Tenang..kalian banyak temennya kok, termasuk aku. Hehehe

UNAS tinggal hitungan hari lagi, nggak sampe sebulan. Sekolah juga uda ngasi kita try out banyak kali (sampe ada yang 10 kali ya? Ckckck) dengan harapan kita bisa lulus di UNAS entar. Ada lo temen kita di luar sana yang saking stresnya sampe masuk rumah sakit dan, yang aku denger sendiri dari sumber berita, ada yang bunuh diri! Tapi namanya juga pemerintah, pasti berita ini nggak disebarluasin lantaran takut jadi keresahan sosial malah jadi runyam dan sepertinya pemerintah juga lebih sibuk kampanye, nyiapin Pemilu, koar-koar di TV, daripada harus pusing mikirin anak-anak SMA yang mau UNAS. Tul ga? =p

Aku sendiri juga ngerasa bingung dan sedih kalau lihat temen-temenku pada frustasi tiap kali mau try out, ngelihat nilai try out, atau lihat countdown UNAS tinggal XX hari lagi. Tapi aku juga ngerasa sedih dan prihatin kalau lihat temen-temenku yang santai-santai aja menjelang UNAS, sok cuek bebek dapet nilai bebek (baca: 2) di try out mereka, lebih mentingin smsan daripada belajar, sibuk nge-add facebook ato friendster daripada persiapin UNAS, atau lebih milih ngacir ke mall terdekat daripada ikut bimbel. Ya, aku tahu. Mereka memang wajar kalau nggak sepanik dan sewas-was itu, dengan berbekal duit minimal 300ribu di tangan, merka udah bisa beli jawaban UNAS yang dijamin lulus tapi nggak ada garansinya. Nggak usah nyari jauh-jauh, penjualnya temen-temen terdekat kita kok. Di setiap kelas pasti ada. Percaya de. Itu udah bukan lagi rahasia. Sekolah? Mereka tahu kok! Paling sekolah juga diem-diem aja mengingat yang diinginkan adalah label “SMA XXXX Lulus 100%”, mereka nggak peduli dicap “SMA XXXX Nyontek 100%”. Aku pengen share pengalamanku yang aku harap bisa lebih nyemangatin kalian menjelang UNAS.

Setahun yang lalu, waktu aku kelas XI, aku ikut lomba Newspaper Design yang diadain DetEksi Mading Championship. Waktu itu aku bingung mau ambil topik apa yang newsworthy tapi nggak basi. Langsung aja aku comot tema UNAS, yang waktu itu sempat bingung bakalan 3 atau 6 mata pelajaran. Kakak-kakak kelas XII dibikin cemas kalang kabut mengingat keputusan pemerintah yang lamban dan gonjang ganjing. Maklum, masih penuh pro dan kontra saat itu. Jadi aku berinisiatif untuk langsung tanya ke sumber informasi yaitu Kepala Dinas Pendidikan Provinsi yang kantornya di deket Tunjungan Center (lupa nama jalannya, hehe.) Kepergianku ke sana juga direstui dan didukung penuh oleh teman-temanku, mereka juga ‘nitip’ protes ke DikNas. Karena waktu itu, kami merasa UNAS percuma, bikin stres, nggak valid, buang duit (bayar juga lo UNAS tu!), bla bla bla bla. Dulu sempat heboh, siswa yang diterima di universitas luar negeri justru nggak lulus gara-gara UNAS, padahal jelas mereka yakin bisa. Bagaikan panas setahun dihapus hujan sehari, sekolah tiga taun dihapus UNAS tiga hari.

Waktu itu, aku juga nggak setuju sama yang namanya UNAS. Kalau ujung-ujungnya siswa bisa nyontek gara-gara ada bocoran soal, jual jawaban, atau pengawas yang pura-pura nggak tahu kalau siswanya nyontek, toh UNAS juga nggak akan bisa mencetak kualitas SDM yang baik. Ya kan? Dalam keberangkatanku ke kantor DikNas, aku uda siap-siap membombardir siapapun Kepala Dinas itu dengan kritikanku yang bertubi-tubi. Aku sudah membayangkan wajah si Kepala Dinas yang menyebalkan, sok tahu, cuek, pokoknya yang jelek-jelek.

Sesampainya di sana, aku bertemu dengan beliau. Dengan intro basa-basi, kami mengungkapkan maksud kedatangan kami, wawancara. Aku udah ambil ancang-ancang buat nyampein maksud hati. Tapi begitu pertanyaan pertama tentang UNAS, wajah Pak DikNas (anggep aja itu namanya.) langsung berubah. Antara pasrah, merasa lemah, berserah, sedih, atau apa aku nggak tahu. Tapi yang pasti aku masih ingat jawaban beliau.

Pemerintah juga lagi bingung gimana caranya mengatasi problematika pendidikan di Indonesia. Kita semua tahu, kalau Malaysia yang dulu pendidikannya masih tertinggal justru sekarang lebih maju dari Indonesia. Mereka bisa, kenapa kita nggak? Pemerintah selalu berusaha meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia, tapi beberapa sekolah nggak bisa diajak kerjasama buat mewujudkan harapan itu. Banyak sekolah yang asal-asalan terima murid, ngelulusin siswa, pokoknya dapet duit SPP, beres sudah. Kalau gitu caranya gimana Indonesia bisa maju kalau terus-terusan gitu?! Indonesia kan juga nggak cuma Jawa doang, masih banyak daerah-daerah terpencil yang butuh kemajuan, terutama di bidang pendidikan. Jadi UNAS dibuat berdasarkan asas STANDARISASI.

Melihat ekspresi Pak DikNas dan penjelasannya yang sederhana tapi mengena, aku dibuatnya speechless. Beliau menceritakan bagaimana pemerintah dibuat pusing oleh hal itu. Pemerintah juga nggak asal ngambil keputusan tanpa pertimbangan yang matang. UNAS sudah melibatkan banyak pihak, dari ahli pendidikan sampai murid itu sendiri. Apa jadinya jika nggak ada UNAS? Sekolah asal meluluskan siswa. Siswa belajar asal-asalan. Dan yang bisa lebih parah, pendidikan bisa dibeli dengan uang. Cause money can buy anything, right?

Rasioku juga udah mulai jalan sejak pertemuanku dengan Pak DikNas. Kalo kita emang bener-bener qualified alias sungguh-sungguh blajar selama tiga tahun kita di sekolah, buat apa ngerasa takut sama UNAS?! Materi UNAS cuma sebagian kecil dari yang kita dapetin selama di sekolah. Jadi apa susahnya? Kecuali kalo selama di SMA kalian hobi nyontek, tidur di kelas, bolos, dan tindakan asusila lainnya, hehehe. Wajar kalo kalian semua takut sama UNAS. Asal kita mau belajar, nggak nyerah, dan berserah sepenuhnya sama Tuhan, toh nggak akan jadi masalah. Kita harus buktiin kalo kita bukan anak SMA sembarang anak SMA. Kalau kita yakin sama semua ini, jujur, rajin, percaya diri, kita nggak akan cuma sukses di UNAS, tapi juga sukses sepanjang hidup kita. Amin.

Walaupun banyak pro dan kontra, UNAS juga tetep aja terjadi. Toh, terus-terusan protes juga bukan jalan keluar. Nyontek ato beli jawaban juga bukan penentu kita sukses UNAS. Aku menganggap ORANG YANG SUKA NONTEK TU ORANG YANG NGAKUIN DAN NUNJUKIN KALO DIRINYA BODOH. Jadi, apa yang harus kita lakukan? Ya belajar… ORANG BISA KARENA BIASA. Kalau kamu sering latian pasti bisa kok! I’m absolutely sure!

Leave comment yah! Aku mau tau komnetar kalian seputar UNAS.. SMANGAT BLAJAR YA! o(^^)0

Comments (3) »

I’M YOURS-NYA SIDNEY MOHEDE LEBIH KEREN DARI YANG DINYANYIIN JASON MRAZ!


No comment »

MY CRAZIEST BIRTHDAY I HAVE EVER HAD!

Satu kata untuk hari ini. UNPREDICTABLE!

Hari ini -awalnya- berjalan seperti biasa. Pelajaran di sekolah ditambah bimbel sudah cukup membuat aku kepayahan. Apalagi, sejak 2 hari yang lalu aku terserang virus flu yang bikin aku meriang, pusing, dan -yang paling kubenci- pilek. Untung saja, pulang sekolah kali ini nggak seperti kemarin, hujan deras sedang malu-malu untuk mengguyur Surabaya. Selepas bimbel, aku nebeng temanku, Tan, seperti biasa. Dia bilang kalau dia mau minta Tolak Angin di rumahku, tapi berhubung stok ‘dopping’ ku di rumah habis, aku mengajak Tan untuk beli di minimarket deket sekolah. Yang sempat bikin aku aneh, dia ditelepon seseorang, dia bilang itu Victor yang lagi nungguin dia. “Sek ta tunggui, ini aku masih di rumahe Lala, tungguen ta!” Itu perkataannya di telepon. Sesampainya di rumahku, dia malah masuk rumah trus minta minum. Aku sih ngerasa biasa-biasa aja. Yaahhh..biasa lah, dia kan tukang nebeng di rumahku.

Tak lama kemudian ada suara yang memanggilku, “Lalaaaa!!!”. Itu Cabe.
“Apa Be? Ngapain ke sini?” tanyaku dengan girang.

Tiba-tiba sepasukan orang bertandang ke rumahku, kira-kira sepuluh orang jumlahnya. Ada Veve, Adrian, Mbi, Mbe, Mon2, Ko Adit, Cire, Vienna, (mungkin kalau ada lagi tapi aku kelupaan mohon dimaafkan ya… ^^’ ) berbondong-bondong ke rumah. Sampai di situ aku pun belum merasa ada yang aneh. Aku pikir mereka biasanya dateng berbondong-bondong gitu kan kalau mau minta diajarin Biologi. (Tapi aku ngerasa bodo banget, mana mungkin mereka minta diajarin Biologi?! Ulangan aja kagak..)

Aku baru ngeh waktu dua orang temanku, eh ‘macan-macan’ku datang membawakanku kue tart kecil berhias lilin yang gede. Djayus. Mereka adalah Janice dan Mutiara. Dua orang temanku ini sudah jadi soulmate-ku sejak aku terjerumus dalam dunia SMA. Kami menamai diri kami TRIO NGGENDONG MACAN, karena kami cewek-cewek tangguh, cerdas, ‘garang’, berpengaruh. dan yang penting, lebih kuat dari macan, lha wong kita bisa nggendong macan! Hehe.

Kembali ke topik semula. Akhirnya mereka semua menyanyikan lagu Happy Birthday walaupun agak nggak kompak. Aku cuma bisa bilang, “Siapa yang ulang tahun?! Aku nggak ultah hari ini.. Aku nggak ultah hari ini!” Yah… mereka pasti tahu kalau memang bukan hari ini hari ulang tahunku. Enam hari yang lalu tepatnya aku sudah 17 kali berotasi mengelilingi matahari sejak aku lahir di dunia ini. Aku semapat kecewa, sedih, dan menangis mengapa teman-teman terbaikku tidak mengingat hari ulang tahunku. Childish memang. Namun aku merasa ucapan dari mereka sangatlah berarti. Tapi mengapa justru teman-temanku yang ‘jauh’ yang ingat hari ulang tahunku, aku tak habis pikir. Namun semua itu sama sekali tidak terbukti di hari ini. Hari paling memalukan dan mengharukan sepanjang hidupku.

Setelah memberiku kue tadi, Muti dan teman-teman sepertinya sudah menyiapkan suatu tindak kejahatan. Baunya terasa. Mataku ditutup dengan syal. Mereka bilang, mereka telah menyiapkan 17 kado untukku, tapi aku harus mencarinya sendiri dengan mata tertutup. Aku digiring keluar rumah. Diuruh maju 5 langkah lah, belok kiri lah, hadap kanan lah, jongkok lah, duduk lah, aku cuma bisa pasrah. Sepanjang aku mencari ke-17 kado itu, aku dikerjai habis-habisan. Awalnya disiram air dari selang rumahku. Brrr… aku merasa kedinginan. Nggak puas dengan itu, mereka membumbuiku dengan tepung, telur, kopi, atau apa lah aku nggak tahu karena aku ‘buta’ waktu itu.

Hingga aku mencari suatu kado, aku dicekoki ramuan setan buatan mereka. Dengan mata tertutup, aku berusaha meyakinkan mereka kalau aku kuat. Aku minum ramuan setan itu satu botol sampai habis, padahal aku nggak disuruh nghabisin. Bodohnya aku. Rasanya asin pake’ banget, mungkin dicampur kecap, sambel, bumbu indomie, atau apalah aku nggak tahu. Aku minum sampai habis. Ah..itu sih cetek! Tak lama kemudian aku bersendawa cukup keras, “HEEEEEGH!!!” Puas?! Huahahaha! Dalam kegelapan aku terus digiring ke sana kemari. Karena di depan rumahku berhamburan pohon-pohon pisang, aku dijerumuskan di dalamnya untuk mencari kado. Dengan kaki telanjang dikelitiki kerikil dan gatal-gatal oleh rumpiyt liar aku terus maju.

Satu per satu aku sudah mendapatkan kado-kado jahanam itu. Aku pasrah. Aku merasa seperti seorang perawan di tangan para algojo. Tapi aku bahagia dalam hati, nggak masalh lah, itung-itung sekali seumur hidup. Aku digiring untuk maju, maju, maju, maju, dan ma…BYUUUR! Aku sukses masuk got. Baunya sih nggak masalah, tapi aku merasakan kakiku yang jemek-jemek dingin, geli-geli lucu. Mereka meneriakiku, “Duduk! Duduk! Ayo duduk! Nanti kan dapet kadonya! Ayo cepet!” Masa’alah, tegane se.. Aku yang kedinginan sempat kebelet pipis dan keceplosan pipis (sedikit) di celana. Jorok.

Dimentaskan dari got, mereka semakin bertambah liar bagaikan kuda binal. Aku disuruh tiduran di jalanan paving depan rumahku, terlentang dengan kedua tangan terbuka. “Ayo posenya kaya’ Tuhan Yesus waktu disalib!” Aku menurut. “Baik, Yang Mulia..” “Ayo sekarang mangap!” Aku meringis, kuperlihatkan deretan gigi-gigiku. Mereka kembali mencekokiku dengan ramuan setan, tapi kali ini setannya udah tobat jadi ya nggak terlalu mematikan, cuma kopi campur teh mungkin. Belum selesai, aku ditetesi sesuatu yang kental berlendir, hambar, mungkin telur mentah aku nggak tahu, untung nggak aku telan. “Sebagai imbalannya ini kadonya…” Dua kado diletakkan di kedua genggaman tanganku. Entahlah, saat itu aku berpikir dimana aku menyembunyikan mukaku ini karena pasti aku jadi tontonan gratis para tetangga. -,-’

Sepertinya mereka belum puas. Tiba-tiba aku mendengar suara motor menderu yang mendekat. Mereka berteriak, “Itu ***i, itu ***i! Beneran La! Sumpah!” Sontak seketika itu juga aku merasa ketakutan dalam hati. Orang itu adalah orang yang aku takuti. Speechless. Aku diam seribu bahasa. Dia datang juga tanpa seribu bahasa, dia menyalamiku dan memberikan hadiah selanjutnya berupa sepasang anting. Dia sendiri yang memakaikannya untukku. Aku masih terdiam. “Ayo La, bilang dong, terima kasih ***i…” Sedikit terpaksa, aku menurut. Aku sama sekali tak ingin mengacaukan suasana.

Akhirnya, penderitaan telah usai. Ke-17 kado telah aku dapatkan. Mereka mengizinkanku membuka penutup mataku. Aku membukanya dan tepat di depan mataku, orang itu adalah… “Bang Ginno Rodriguez!!! Hyaaaaa!!!! Kurang ajar! Kamu ngerjai ya?!” Itu ‘abang’ku yang gokil. Aku masih setengah nggak percaya kalau itu Bang Ginno. Rasanya pengen meluk, tapi dia udah ada yang punya. Lagian masa’ mau dia meluk aku yang bau dan berlendir itu. Usut punya usut, ternyata semua itu by accident alias nggak disengaja. Bang Ginno yang kebetulan lewat depan gang rumahku melihat ada chaos di sana, digebernya motor kesayangannya dan menuju ‘tempat penghakimanku’. Jadilah dia surprise yang surprise! ‘Luv’ u Bang.. haha.

Tak lama kemudian hujan gerimis mengguyur rumahku, teman-temanku pun mreteli satu per satu. Dalam hati aku bersyukur, saved by the rain, thanks God! Hingga tersisa dua algojo, Muti dan Tan. Mereka menungguiku sampai aku membuka ke-17 kado ultahku. Semuanya berwarna kuning, warna kehidupanku. Sampai aku membuka kado ke-17 berupa kartu ucapan yang di baliknya terpampang 3 wajah tanpa dosa yang tak lain dan tak bukan adalah otak dari kejahatan ini. Siapa lagi kalau bukan Muti, Janice dan Tan. Masih dalam keadaan jorok aku berterima kasih pada kedua ‘teman tapi monyet’ ku itu.

ni dia otak kejahatannya...

ni dia otak kejahatannya...

Perasaanku hari ini campur aduk selayaknya ramuan setan tadi.
BAHAGIA
TERHARU
THANKFUL
MALU
JOROK
PASRAH
BINGUNG
MERASA LEMAH
DAG DIG DUG
BASAH
JEMEK
KEDINGINAN
KEBELET PIPIS
MULES
Ya! Mules! Entah senyawa apa yang dicampurkan dalam ramuan setan itu, dulcolax, garam Inggris, pencahar, atau apa lah aku tak tahu. Yang jelas, mereka telah membuatku mules dengan sukses! Mencret cap kampret! Aku mendekam di kamar mandi, menderita aku ee’ air. Ditambah meriangku sepertinya kumat lagi. Aku butuh tiga gelas besar teh panas untuk mengembalikan suhu tubuhku ke angka 27. Ya Tuhanku kasihanilah daku…

Namun aku melihat ini semua bukan sebagai penderitaan, tapi sebuah perhatian. Terima kasih banyak teman-temanku. Aku nggak akan lupa perbuatan kalian. Tuhan ampunilah mereka karena mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat. huehehehe. Bukan. Thanks God udah memberikan teman-teman yang berarti dalam hidup Lala.  Best friend forever! Make this moment everlasting… ( 09/01/09 )

No comment »

19-12-08

Yang paling kubutuhkan hari ini. Menyendiri.

Entah kenapa hari ini begitu memuakkan bagiku. FUCK UP WITH EVERYTHING!

Semuanya berubah dari pagi ini. Ah, entah bagaimana aku menjelaskannya. Entah, ini cuma aktivitas hormonalku yang meningkat gara-gara sindrom bulanan para wanita atau memang aku sedang didatangi dewi nasib buruk hari ini. Yang paling buruk hari ini adalah aku sewot sama Papaku. Tiba-tiba saja air mata menetes, antara rasa kesal dan rasa bersalah. Sungguh perasaan yang tidak dapat diungkapkan dengan kata-kata. Yang pasti, hari ini aku kehilangan mood-ku yang selalu menemani hari-hariku.

Hari ini aku nggak masuk sekolah, bolos lebih tepatnya, walaupun hari ini bukan hari efektif sekolah. Rasanya hari ini aku jadi orang paling bodoh sedunia. Aku kehilangan momen kemenanganku. Kemenangan yang aku nanti-nantikan. Pengakuan seluruh teman-temanku bahwa aku seorang PERS yang patut diakui. Pengakuan bahwa menyanyi tanpa alat musik bisa juga dinikmati. Aku dan teman-teman sekelasku memenangkan lomba jurnalis dan festifal musik. Dan aku melewatkan semua kesenangan itu. Masih kuingat Muti meneleponku, “Kemana aja, Jeng? Ni aku lagi makan hasil lomba kita lo.. Lumayan dapet hadiahnya.. Kenapa nggak ke skul?”

-bodohnya aku-

Tak lama kemudian datang sepupuku yang bawel datang dan masuk ke kamarku. Aku yang saat itu sedang terkonsentrasi pada sesuatu di laptopku, harus digundahkan dengan tingkahnya yang ingin ini-itu. Dia pengen nonton DVD katanya, padahal TVku lagi disabot ade-ade ku. Iba, kuberikan laptop ini buat nonton film bareng dia, walaupun waktu itu aku lagi kerja sesuatu yang not only important but also urgent. Di tengah asyiknya nonton, begitu aku menoleh, dia tertidur! Begitu bangun dia keluar kamar, alhasil tinggal aku di kamar menonton film itu. Dia cuek dan nggak liat film yang aku bela-belain buat dia. Serasa mau kuketekin dia!

OK, take it easy, big girl..

Hujan deras seketika mengguyur rumahku. Aku ingat dua setengah jam yang lalu, seorang teman mendatangi rumahku. Kupersilakan masuk, berharap ada sesuatu yang bisa membangkitkan semangatku. Dugaanku salah. Dia datang membawa segala cerita dari orang yang aku benci, yang sudah mengecewakanku, memutar paradigmaku yang dulu kubanggakan. -Cepatlah pulang!- Hanya itu yang kuharapkan.

Di tengah aku menulis kata-kata ini, sebuah lagu mengalun dari laptopku. Satu kalimat saja dari lagu itu bisa membuatku meneteskan air mata kembali. Seketika ini juga aku mendapat satu harapan kecil, sedikit kekuatan dan api semangat untuk kembali menjalani hari ini. Melupakan hal-hal bodoh yang sudah aku lakukan, mengahpus ingatan tentang semua yang telah terjadi.

Sidney Mohede dalam laptopku berkata…

…sedalamnya hatiku KAU pun tahu

dan kasihMU tak jauh dalam jiwaku

di dalam kesesakan

di dalam kemenangan

ku tahu ENGKAU slalu bersamaku…

Comments (1) »

REMIDI PERTAMAKU…

Mungkin ini rekor pertama dalam sejarah SMAku. Bukannya ingin sombong, angkuh, congkak, atau meninggikan diri, dari sejak masuk dunia putih-abu-abu, aku nggak pernah remidi sama sekali. Cukup beralasan, aku nggak suka melakukan hal yang sama dua kali. Apalagi kalau harus tetap di kelas sepulang sekolah sementara yang lainnya sudah merasakan udara bebas di rumah masing-masing. Mending ngoyo sehari buat belajar daripada males-malesan dengan dua kali belajar.

Anehnya lagi, sering aku bisa mengerjakan ulangan, tapi kalau disuruh menenrangkan apa jawabannya, atau mengulang lagi caranya, aku nggak pernah bisa. Sering lupa, lha tadi itu soal ulangannya apa, padahal ulangan baru selesai 5 menit yang lalu. Yang lebih bodoh lagi, waktu pelajaran, kalau ada latihan atau PR, aku nggak bisa mengerjakan. Misalnya Fisika atau Matematika, kalau ditanya aku nggak bisa, tapi ulangan dapetnya bagus. Pasti temen-temen pada bilang, “Tadi ngomongnya nggak bisa, tapi yo dapet apik ae lo… Sombong pe…”. Tapi memang itu yang terjadi. Tersadar, semua itu anugerah, nggak semua orang punya anugerah itu, dan ternyata, bakat ‘ketidaktahuan’ku itu menurun dari Ibuku. Dia punya pengalaman yang sama semasa sekolah. Thanks GOD!

Konyolnya lagi, Ulangan Akhir Semester ini aku bener-bener sial. Pasalnya, aku kena remidi di pelajaran yang memang bener-bener aku nggak bisa dan pelajaran ini terasa konyol untuk ‘diulangankan’. Apa lagi kalau bukan PENJASKES. Pelajaran Olahraga. Bodoh rasanya kalau olahraga dipelajari secara teori. Mana yang diulangankan materi olahraga permainan macam voli, basket, sepak bola, bulutangkis. Aku kan nggak suka, ya pernah sih dikit-dikit liat, tapi namanya juga nggak tahu.

Olahraga kan bukan dipelajari secara teori, tapi langsung ‘terjun ke lapangan’. Bayangkan saja, belajar berenang lewat buku tapi nggak pernah nyemplung di air. Sama saja kelelep. Semuanya berdasarkan pengalaman, latihan, dan kerja keras. Sama seperti keKristenan. Semua berdasarkan pengalaman. Pertemuan antara manusia, ciptaan, dengan Tuhan,Sang Pencipta. KeKristenan bukan dari teori, Alkitab, khotbah atau sebagainya, semua punya persepsi berbeda menurut pengalaman yang pernah dirasakannya. ^^

No comment »

Empat Kekalahan dalam Satu Minggu

Akhirnya, setelah sekian lama nggak go-blog, aku bisa memuaskan hasrat menulisku. Akhir-akhir ini aku sibuk banget! Gimana nggak, banyak lomba yang aku ikuti, semuanya berurutan membentuk suatu rangkaian kesibukan. Rasanya seperti sudah nggak bisa nafas, setiap ingin melepaskan penat, selalu saja ada hal yang belum dikerjakan. Pfiuh! Tapi akibatnya, semua yang aku lakukan nggak aku lakukan secara maksimal. Nggak ada totalitas sama sekali. Sepertinya dalam pikiranku waktu itu hanya ada, KONSEP-KERJA-CEPATLAH SELESAI.

Hasil dari semua yang aku lakukan akhir bulan lalu adalah KALAH. Semuanya gagal. Mulai dari lomba karya ilmiah yang diadain Unesa. Karya ilmiah yang aku buat sama partnerku bisa dibilang bagus dan berbobot. Materi karya ilmiah yang sama pernah aku tampilkan di Olimpiade Biologi tingkat Jawa-Bali dan mendapat nilai akumulasi tertinggi. Mutlak katanya. Tapi entah kenapa, di LKTI tingkat Jatim ini aku nggak bisa nembus semifinal, 10 tertinggi. Padahal, partner LKTIku juga bukan sembarang orang lo, dia punya prestasi internasional di bidang lingkungan dan bak selebritis di bidang itu. Tetap saja kata ‘kalah’ menghujamku. Setelah aku lihat daftar nama pemenang dan akumulasi nilainya, memang rasanya lawan mainku berat-berat. Dari judul karya ilmiahnya saja sudah cukup bikin aku merinding. Anehnya lagi, semua pemenang berasal dari sekolah negeri. (You know what I mean? Minority disorder.) Waktu itu aku nggak mikirin lomba itu lagi, karena masih banyak tugas menanti di depan.

Selanjutnya Biotech Camp yang diadain Ubaya. Karena aku nggak persiapan materi dan belajar sebelumnya, aku nggak ngeh sama praktikum yang diberikan, dari awal sampai akhir. Rasanya waktu itu aku jadi peserta paling bodoh sedunia. Walaupun sebenarnya materi yang diberikan adalah materi perkuliahan semester 5 di fakultas biotek, peserta-peserta lain sepertinya sudah benar-benar persiapan dan menguasai materi yang ada. Walaupun bukan kompetisi atau lomba, di kamp ini bisa dibilang aku kalah (lagi). -keluh-

view-nya keren... ~,~

view-nya keren... ~,~

Yang ketiga adalah Christmas Tree Competition, atau lomba menghias pohon Natal yang diadakan UK Petra. Bukan keinginan aku sendiri aku ikut kompetisi ini, lebih tepatnya dipaksa, karena nggak ada yang mau ikut dari sekolahku. Membuatnya pun agak asal-asalan, nggak dapet feel-nya, karena pengerjaan pohon Natal itu ada di sela-sela pengerjaan mading DetEksi. Haduh, kalau ngebayangin situasi kemarin itu, mau mati rasanya. Otak harus dibagi jadi tiga, pelajaran di sekolah, pohon Natal, dan mading. Apalagi, aku jadi sering nggak masuk kelas, nggak ikut pelajaran. Dan itu terus terjadi sampai seminggu lebih. Mungkin, kalau Mamaku tahu apa yang terjadi padaku bisa-bisa aku nggak disekolahkan dan disuruh kerja aja. Hahaha. Bukan sembarang menghias, lomba kali ini bisa dibilang ramah lingkungan. Pasalnya, pohon Natal yang dibuat harus memakai barang-barang bekas.Akhirnya, karena kehabisan ide, jadilah pohon Natal kami terbuat dari kardus bekas. Sangat tidak elegan. Bagus lo sebenarnya, hanya saja unsur ‘kebekasannya’ kurang terlihat. Yah bisa ditebak lomba menghias pohon Natal ini (kembali) kalah.

Tiga hal tadi sebenarnya nggak membuat aku kecewa. (Ya…kecewa sedikit lah..) Aku ikhlas. Tapi yang nggak biasa di tahun ini adalah madingku kalah untuk yang pertama kalinya. Kalau dihitung-hitung, sudah lima kali aku ikut lomba mading, dan semuanya selalu menang mutlak. Tiga kali juara 1, top ten, dan 25 honorable mention. Bukannya mau menyombongkan diri, tapi aku suka sekali mading, sama seperti menulis, jadi hal itu bukan hal yang sulit bagiku. Bedanya, mading punya tantangan lebih besar. Nggak cuma menulis, tapi kreativitas selalu diuji. (Tentang mading lebih lanjut mau aku ceritain lebih banyak di post ku berikutnya.) Susah payah aku membuat mading ini. Karena tema Mading Det-Con kali ini adalah fairy tale, aku mengambil judul ‘Pegasus’. Mading ini kecil, cuma 50×50x50 cm, harus ada elemen dari mading itu yang bisa bergerak. Awalnya mading ini kami kerjakan berempat, cewek semua. Berhubung mading ini ada kaitannya dengan elektronika, kami menyerah sok girl power. Dua teman cowok kami ikut membantu. Lucu rasanya melihat mereka yang notabene anak taewondo pindah haluan jadi anak mading. Hihihi.

Ini masih prototype low...^^

Ini masih prototype low...^^

Kebahagiaan kami meluap-luap ketika Sang Pegasus sudah jadi. Rasanya seperti seorang ibu yang bahagia melihat anaknya sudah lahir. Terharu. Kami bangga. Kami percaya. Kami optimis. Namun semua itu menjadi berbeda ketika kami melihat mading karya sekolah lain. Kami (tidak) bangga. Kami (tidak) percaya. Kami (tidak) optimis. Karya-karya lain jauh lebih spektakuler. Elemen-elemen yang dipakai pun bukan barang-barang biasa yang bisa dipakai dalam pembuatan mading. Ada yang pakai TV portable, mini LCD, sampai alat chocolate fountain. Jelas saja kami kalah modal, Sang Pegasus kami buat semuanya sendiri. Bahkan, beberapa alat yang kami pakai adalah alat-alat bekas. Kali ini aku harus puas untuk kalah. Tapi aku kalah dalam kebanggaan, Pegasus hasil tangan kami sendiri.

Keempat kekalahan tadi aku alami dalam waktu dua minggu. Ini yang terbaik dariku. Walaupun aku harus puas dengan kekalahan, tapi aku nggak merasa sedih. Paling tidak, ini karya-karya terakhirku di masa SMA. Masa paling indah. Entah setelah ini aku sudah nggak bisa lagi utak-atik kreativitasku. Aku harus menyibukkan diri dengan belajar.

Kekalahan menyadarkan kita bahwa ada orang lain yang mempunyai kekuatan melebihi diri kita.

Comments (4) »

BATU, KERIKIL, PASIR

Seorang profesor filsafat ketika sedang memberikan kuliah mengeluarkan sebuah botol mayones yang sudah kosong. Kemudian ia mengeluarkan beberapa batu yang kemudian diisikannya ke botol itu. Ketika sudah dua batu diisikan, sudah tak ada tempat lagi bagi batu ketiga. Ia bertanya pada mahasiswanya apakah botol itu sudah penuh? Mahasiwanya mengiakan. Kemudian ia mengambil kerikil kecil. Dimasukkannya kerikil itu ke botol dan botol itu dikocok-kocoknya. Kerikil-kerikil itu akhirnya masuk bergulir memenuhi ruang di antara batu-batu itu. Sekali lagi ia bertanya apakah botol itu penuh? Mahasiswanya menjawab ya. Lalu profesor itu mengambil pasir dan menuangkannya ke botol. Setelah botol itu diguncang-guncangkan beberapa kali, pasir itu masuk mengisi ruang yang masih tersisa memenuhi botol.

“Sekarang,” kata profesor, “Saya ingin kalian tahu bahwa botol ini mengibaratkan hidup kamu. Batu-batu ini adalah hal-hal yang paling penting dalam hidup kamu yaitu , keluarga, kesehatan, anak-anak Anda. Kerikil-kerikil ini adalah hal-hal lain yang juga penting dalam hidup Anda, misalnya pekerjaan, pengetahuan, ketrampilan Anda. Pasir adalah hal-hal lain seperti hobby dan kesenangan Anda.
Bila Anda memasukkan kerikil dan pasir terlebih dahulu maka tak ada ruang lagi buat batu. Begitu juga dengan hidup Anda. Bila Anda mencurahkan seluruh energi dan waktu Anda untuk hal-hal yang kecil, materi, kedudukan, kesenangan, maka Anda tak mempunyai ruang lagi untuk hal yang benar-benar penting dalam hidup Anda. Berikan prioritas pada hal yang terpenting. Beri perhatian pada isteri atau suami dan anak-anak Anda. Dan jangan lupa berikan pula waktu bagi Dia yang memelihara Anda. Jangan khawatir Anda akan tetap punya waktu untuk pekerjaan dan kesenangan Anda, karena hal-hal itu hanyalah kerikil dan pasir saja.”

No comment »

Menulis = Ngomong Sendiri

Dari dulu aku suka menulis. Yah, apa aja aku tulis. Rasanya lebih enak menulis daripada langsung nyerocos ba bi bu, soalnya kalau nulis itu harus dipikir dulu. Tulisannya layak dibaca orang nggak. Tapi kalau ngomong langsung, lidah ini nggak ada rem nya, nggak bisa berhenti, nggak bisa dikontrol. Menurutku, menulis nggak perlu keahlian. Cukup ungkapin aja perasaan kita, serasa kita ngomong sama diri kita sendiri.

Sometimes, aku juga susah buat langsung ngomong secara verbal. Biasanya, aku pikir-pikir dulu, baru aku tulis, biar nggak lupa. Tapi aku punya satu pengalaman yang menyentuh hatiku tentang menulis.

Suatu saat, seorang teman yang kukenal baik menghampiriku dengan wajah suram dan lesu. Dari mukanya aku tahu kalau dia baru saja menangis. I can see it in his eyes. Seketika itu juga dia menumpahkan rasa sedihnya padaku. Seketika itu pula aku merasa speechless, entah apa yang harus kukatakan, aku hanya mampu terpaku dan meredakan tangisnya.

Sungguh bukan masalah sepele yang dihadapinya, sangat pelik. Di perjalanan pulang aku terus memikirkannya dan bertanya pada Tuhanku, “What should i do?

Ketika aku termenung… Berpikir… Aku mulai mengerti, menarik satu helai benang merah dari setiap permasalahannya dan.. MENULISKANNYA.

Tulisan itu mengalir. Terus mengalir apa adanya, rasanya pada waktu itu aku sedang berbicara padanya. Berhadapan dengannya dalam sebuah kertas putih yang tidak berdosa. Tak akan berhenti sebelum kata-kata itu habis dalam pikiranku. Tak ada kata yang salah, tak ada huruf yang tercoret, semuanya mengalir begitu saja.

Esok harinya, kuberikan kertas itu padanya, kumohon dia membacanya dalam keheningan, dalam instropeksi diri dan ketenangan. Dia baru kembali padaku keesokan harinya, dia sangat berterima kasih dengan suratku waktu itu, kulihat ekspresinya sudah tak seperti yang dulu. Aku juga tak tahu, mengapa suratku bisa begitu berarti baginya.

Sekali aku menulis, aku serasa kerasukan roh kata bahasa yang siap membombardirku dengan jutaan huruf. Satu demi satu mengalir begitu saja. Aku sangat menikmatinya.

Kalau dibilang aku suka membaca, sebenarnya tidak juga. Kalau disuruh membaca buku setebal 300 halaman saja sudah membuat aku lelah. Apalagi kalau buku terjemahan, susah mencernanya! Tapi aku suka pengetahuan-pengetahuan baru, inovasi, dan opini-opini manusia, yang semuanya didapat dari buku atau internet. Jadi yah.. secara nggak langsung, aku (terpaksa) harus suka membaca. ^^

Dari semua ketertarikanku seputar membaca dan menulis, ada satu yang menghalangi roh itu merasukiku. WAKTU. Mengapa waktu susah dicari? Apa karena aku so(k) sibuk? hahaha

Tapi gaya menulisku nggak bisa dipaksa. Tergantung roh itu lagi mood atau nggak. Tergantung aku sedang kerasukan atau tidak. Aku harap roh kata bahasa itu selalu ada dan eksis sampai akhir kata mampu kuucapkan.

Comments (1) »

AKHIRNYA…

FYI, dari SMP aku udah bisa dibilang ‘competition maniac’. Dari dulu waktu aku masih muda, aku suka banget yang namanya ikut lomba. Nggak tau si, rasanya asyik aja, menantang! Tapi kalo aku sih bener-bener keterlaluan, dari sekian banyak lomba yang aku ikutin cuma beberapa kali menang. Yang paling sering adalah HAMPIR MENANG!

Dari dahulu kala itulah aku selalu bermimpi bisa pinter kaya’ anak-anak Petra Manyar, Hwa Ind, Sinlui, SmaLa, tapi mimpi juga tetap mimpi. Aku hanya bisa berdiri terpaku penuh kekaguman, sorot mata tajam lurus melihat mereka berdiri di babak final. Aku tak habis pikir, kok bisa sih ada orang sepintar mereka?! Apa otak mereka kelebihan satu jadi punya memory space lebih banyak?!

Dalam hati, rasa kecewa itu selalu ada. Semifinalis diambil 4 tim, aku urutan 5. Diambil 11, aku urutan 13. Diambil 5, aku urutan 7. Begitu terus-menerus sampai aku mencapai satu titik yang dinamakan PATAH ARANG.

Entah kenapa, selalu ada hasrat yang mendorongku untuk memuaskan rasa penasaran itu. Berdiri sebagai seorang pemenang selalu menggiurkanku. Satu demi satu kompetisi aku jalani.

Kompetisi setelah itu aku masih kecewa, bayangkan saja! Kompetisi biologi se-Jawa Bali diambil 5 finalis dan aku urutan keenam dengan selisih hanya 1 (satu) poin!! siapa yang nggak emo coba?! Dunia ini emang nggak adil… TT

Yah, namanya juga orang gila, aku tetep aja nggak mau menyerah dengan keadaan. Satu lagi kompetisi kujalani. Kompetisi ini tentang Farmasi yang diadakan Universitas Widya Mandala. Nggak sepeti biasanya, kali ini aku menyerah untuk belajar, nggak ada persiapan khusus, keluar jam pelajaran, atau belajar berhari-hari sebagai senjata perang. Bahkan, aku baru ingat 5hari sebelumnya kalau aku mau ikut kompetisi. Freak kan?! Lebih tepatnya nekat.

Seperti kisah si Daud, aku sama sekali nggak pake baju perang, karena memang aku nggak mau. Aku nggak bawa pedang atau tombak, karena itu terlalu berat bagiku. Aku nggak bawa senapan, karena zaman dulu blon ada.. (hehehe) Tapi aku cuma ’sangu’ kenekatan dan keberanian. Kalau dulu aku duduk di kursi, melihat finalis dan pemenang dengan bibir tersungging penuh kemenangan. Kalau dulu aku berharap aku bisa sepintar mereka. Sekarang aku sendiri yang mengalaminya.

Akhirnya…

Aku JUARA SATU!

Damn…!

Setengah nggak percaya, setengah ngrasa ngimpi, serasa terbang ke langit ketujuh… Thanks God, for all YOU’ve done for me! Dari sini aku belajar sesuatu, jangan belajar sebelum bertanding. Bukan.

DALAM KELEMAHANKULAH KUASAMU (TUHAN) MENJADI SEMPURNA…

No comment »

Trauma, Luka, Pria

Suatu kejadian yang sangat menyakitkan bisa bikin orang trauma. Trauma itu bagai luka goresan yang bisa sembuh tapi membekas dan mengingatkan kita akan sakitnya luka itu.

Saat ini aku punya trauma. Sebenarnya trauma ini uda cukup lama aku rasakan. Tapi, baru kali ini merasakan  yang namanya sakit yang mendalam. Sangat dalam.  Sampai  tak ada seorang pun -selain aku-  yang mampu menyelaminya.

Traumaku cukup tidak masuk akal. TRAUMA AKAN CINTA.

Cinta yang -kata orang- buta, cinta nafsu, apapun itu. Cinta seorang laki-laki yang merasa tertarik pada seorang wanita. Tapi bukan berarti aku lesbi. Aku sudah cukup jera terjerumus dalam sebuah percintaan. Cinta itu rumit, membingungkan, menyusahkan, menyedihkan, dan -jika gagal- menyakitkan.

Sebelumnya sudah kuceritakan betapa sakitnya luka itu. Parahnya, belum terhapuskan sampai saat ini.  Bayang-bayangnya menghantui. Walaupun sekian laki-laki mendekati, tetap saja aku teringat bayang-bayang itu.  Bayang-bayang yang tersenyum manis lalu  pelan-pelan  melukiskan  luka yang dalam.  KEJAM.

Entah sampai kapan aku begini. Aku sudah lelah. Aku hanya bisa menunggu, sampai kutemukan dia yang mampu memulihkan perihku, melupakan sakitku, dan  menghapus trauma itu. Aku akan sabar menunggu…

Comments (1) »