Trauma, Luka, Pria
Suatu kejadian yang sangat menyakitkan bisa bikin orang trauma. Trauma itu bagai luka goresan yang bisa sembuh tapi membekas dan mengingatkan kita akan sakitnya luka itu.
Saat ini aku punya trauma. Sebenarnya trauma ini uda cukup lama aku rasakan. Tapi, baru kali ini merasakan yang namanya sakit yang mendalam. Sangat dalam. Sampai tak ada seorang pun -selain aku- yang mampu menyelaminya.
Traumaku cukup tidak masuk akal. TRAUMA AKAN CINTA.
Cinta yang -kata orang- buta, cinta nafsu, apapun itu. Cinta seorang laki-laki yang merasa tertarik pada seorang wanita. Tapi bukan berarti aku lesbi. Aku sudah cukup jera terjerumus dalam sebuah percintaan. Cinta itu rumit, membingungkan, menyusahkan, menyedihkan, dan -jika gagal- menyakitkan.
Sebelumnya sudah kuceritakan betapa sakitnya luka itu. Parahnya, belum terhapuskan sampai saat ini. Bayang-bayangnya menghantui. Walaupun sekian laki-laki mendekati, tetap saja aku teringat bayang-bayang itu. Bayang-bayang yang tersenyum manis lalu pelan-pelan melukiskan luka yang dalam. KEJAM.
Entah sampai kapan aku begini. Aku sudah lelah. Aku hanya bisa menunggu, sampai kutemukan dia yang mampu memulihkan perihku, melupakan sakitku, dan menghapus trauma itu. Aku akan sabar menunggu…
STR said,
November 9, 2008 @ 9:03 pm
Dear Lala,
Aku baru pertama kali ini singgah di blogmu. Artikel ini cukup menarik perhatianku. Sudah lumayan lama aku nggak bicara soal cinta.
Menurut hematku, orang yang bisa pulihkan perihmu, membuatmu lupa akan sakitmu, dan menghapus trauma itu ya dirimu sendiri. Jangan bergantung ke orang lain.
Setelah semua kembali normal, jangan pasang ekspektasi tinggi-tinggi lain kali. Bisa kuciwa lagi nanti!
Urip iku nglaras wae, kata orang Jawa.