Menulis = Ngomong Sendiri
Dari dulu aku suka menulis. Yah, apa aja aku tulis. Rasanya lebih enak menulis daripada langsung nyerocos ba bi bu, soalnya kalau nulis itu harus dipikir dulu. Tulisannya layak dibaca orang nggak. Tapi kalau ngomong langsung, lidah ini nggak ada rem nya, nggak bisa berhenti, nggak bisa dikontrol. Menurutku, menulis nggak perlu keahlian. Cukup ungkapin aja perasaan kita, serasa kita ngomong sama diri kita sendiri.
Sometimes, aku juga susah buat langsung ngomong secara verbal. Biasanya, aku pikir-pikir dulu, baru aku tulis, biar nggak lupa. Tapi aku punya satu pengalaman yang menyentuh hatiku tentang menulis.
Suatu saat, seorang teman yang kukenal baik menghampiriku dengan wajah suram dan lesu. Dari mukanya aku tahu kalau dia baru saja menangis. I can see it in his eyes. Seketika itu juga dia menumpahkan rasa sedihnya padaku. Seketika itu pula aku merasa speechless, entah apa yang harus kukatakan, aku hanya mampu terpaku dan meredakan tangisnya.
Sungguh bukan masalah sepele yang dihadapinya, sangat pelik. Di perjalanan pulang aku terus memikirkannya dan bertanya pada Tuhanku, “What should i do?”
Ketika aku termenung… Berpikir… Aku mulai mengerti, menarik satu helai benang merah dari setiap permasalahannya dan.. MENULISKANNYA.
Tulisan itu mengalir. Terus mengalir apa adanya, rasanya pada waktu itu aku sedang berbicara padanya. Berhadapan dengannya dalam sebuah kertas putih yang tidak berdosa. Tak akan berhenti sebelum kata-kata itu habis dalam pikiranku. Tak ada kata yang salah, tak ada huruf yang tercoret, semuanya mengalir begitu saja.
Esok harinya, kuberikan kertas itu padanya, kumohon dia membacanya dalam keheningan, dalam instropeksi diri dan ketenangan. Dia baru kembali padaku keesokan harinya, dia sangat berterima kasih dengan suratku waktu itu, kulihat ekspresinya sudah tak seperti yang dulu. Aku juga tak tahu, mengapa suratku bisa begitu berarti baginya.
Sekali aku menulis, aku serasa kerasukan roh kata bahasa yang siap membombardirku dengan jutaan huruf. Satu demi satu mengalir begitu saja. Aku sangat menikmatinya.
Kalau dibilang aku suka membaca, sebenarnya tidak juga. Kalau disuruh membaca buku setebal 300 halaman saja sudah membuat aku lelah. Apalagi kalau buku terjemahan, susah mencernanya! Tapi aku suka pengetahuan-pengetahuan baru, inovasi, dan opini-opini manusia, yang semuanya didapat dari buku atau internet. Jadi yah.. secara nggak langsung, aku (terpaksa) harus suka membaca. ^^
Dari semua ketertarikanku seputar membaca dan menulis, ada satu yang menghalangi roh itu merasukiku. WAKTU. Mengapa waktu susah dicari? Apa karena aku so(k) sibuk? hahaha
Tapi gaya menulisku nggak bisa dipaksa. Tergantung roh itu lagi mood atau nggak. Tergantung aku sedang kerasukan atau tidak. Aku harap roh kata bahasa itu selalu ada dan eksis sampai akhir kata mampu kuucapkan.

STR said,
November 9, 2008 @ 9:15 pm
La, tulisanmu bagus. Kalau menurut teori kecerdasan majemuk Howard Gardner, orang macam kamu punya kecerdasan linguistik tinggi. Ia bisa memaknai sesuatu dalam bentuk kata-kata. Para wartawan, penulis, dan penerjemah masuk dalam kelompok orang-orang ini.