19-12-08
Yang paling kubutuhkan hari ini. Menyendiri.
Entah kenapa hari ini begitu memuakkan bagiku. FUCK UP WITH EVERYTHING!
Semuanya berubah dari pagi ini. Ah, entah bagaimana aku menjelaskannya. Entah, ini cuma aktivitas hormonalku yang meningkat gara-gara sindrom bulanan para wanita atau memang aku sedang didatangi dewi nasib buruk hari ini. Yang paling buruk hari ini adalah aku sewot sama Papaku. Tiba-tiba saja air mata menetes, antara rasa kesal dan rasa bersalah. Sungguh perasaan yang tidak dapat diungkapkan dengan kata-kata. Yang pasti, hari ini aku kehilangan mood-ku yang selalu menemani hari-hariku.
Hari ini aku nggak masuk sekolah, bolos lebih tepatnya, walaupun hari ini bukan hari efektif sekolah. Rasanya hari ini aku jadi orang paling bodoh sedunia. Aku kehilangan momen kemenanganku. Kemenangan yang aku nanti-nantikan. Pengakuan seluruh teman-temanku bahwa aku seorang PERS yang patut diakui. Pengakuan bahwa menyanyi tanpa alat musik bisa juga dinikmati. Aku dan teman-teman sekelasku memenangkan lomba jurnalis dan festifal musik. Dan aku melewatkan semua kesenangan itu. Masih kuingat Muti meneleponku, “Kemana aja, Jeng? Ni aku lagi makan hasil lomba kita lo.. Lumayan dapet hadiahnya.. Kenapa nggak ke skul?”
-bodohnya aku-
Tak lama kemudian datang sepupuku yang bawel datang dan masuk ke kamarku. Aku yang saat itu sedang terkonsentrasi pada sesuatu di laptopku, harus digundahkan dengan tingkahnya yang ingin ini-itu. Dia pengen nonton DVD katanya, padahal TVku lagi disabot ade-ade ku. Iba, kuberikan laptop ini buat nonton film bareng dia, walaupun waktu itu aku lagi kerja sesuatu yang not only important but also urgent. Di tengah asyiknya nonton, begitu aku menoleh, dia tertidur! Begitu bangun dia keluar kamar, alhasil tinggal aku di kamar menonton film itu. Dia cuek dan nggak liat film yang aku bela-belain buat dia. Serasa mau kuketekin dia!
OK, take it easy, big girl..
Hujan deras seketika mengguyur rumahku. Aku ingat dua setengah jam yang lalu, seorang teman mendatangi rumahku. Kupersilakan masuk, berharap ada sesuatu yang bisa membangkitkan semangatku. Dugaanku salah. Dia datang membawa segala cerita dari orang yang aku benci, yang sudah mengecewakanku, memutar paradigmaku yang dulu kubanggakan. -Cepatlah pulang!- Hanya itu yang kuharapkan.
Di tengah aku menulis kata-kata ini, sebuah lagu mengalun dari laptopku. Satu kalimat saja dari lagu itu bisa membuatku meneteskan air mata kembali. Seketika ini juga aku mendapat satu harapan kecil, sedikit kekuatan dan api semangat untuk kembali menjalani hari ini. Melupakan hal-hal bodoh yang sudah aku lakukan, mengahpus ingatan tentang semua yang telah terjadi.
Sidney Mohede dalam laptopku berkata…
…sedalamnya hatiku KAU pun tahu
dan kasihMU tak jauh dalam jiwaku
di dalam kesesakan
di dalam kemenangan
ku tahu ENGKAU slalu bersamaku…
STR said,
December 21, 2008 @ 1:22 pm
Ini sudah lewat dua hari. Masih mau menyendiri?