MY CRAZIEST BIRTHDAY I HAVE EVER HAD!
Satu kata untuk hari ini. UNPREDICTABLE!
Hari ini -awalnya- berjalan seperti biasa. Pelajaran di sekolah ditambah bimbel sudah cukup membuat aku kepayahan. Apalagi, sejak 2 hari yang lalu aku terserang virus flu yang bikin aku meriang, pusing, dan -yang paling kubenci- pilek. Untung saja, pulang sekolah kali ini nggak seperti kemarin, hujan deras sedang malu-malu untuk mengguyur Surabaya. Selepas bimbel, aku nebeng temanku, Tan, seperti biasa. Dia bilang kalau dia mau minta Tolak Angin di rumahku, tapi berhubung stok ‘dopping’ ku di rumah habis, aku mengajak Tan untuk beli di minimarket deket sekolah. Yang sempat bikin aku aneh, dia ditelepon seseorang, dia bilang itu Victor yang lagi nungguin dia. “Sek ta tunggui, ini aku masih di rumahe Lala, tungguen ta!” Itu perkataannya di telepon. Sesampainya di rumahku, dia malah masuk rumah trus minta minum. Aku sih ngerasa biasa-biasa aja. Yaahhh..biasa lah, dia kan tukang nebeng di rumahku.
Tak lama kemudian ada suara yang memanggilku, “Lalaaaa!!!”. Itu Cabe.
“Apa Be? Ngapain ke sini?” tanyaku dengan girang.
Tiba-tiba sepasukan orang bertandang ke rumahku, kira-kira sepuluh orang jumlahnya. Ada Veve, Adrian, Mbi, Mbe, Mon2, Ko Adit, Cire, Vienna, (mungkin kalau ada lagi tapi aku kelupaan mohon dimaafkan ya… ^^’ ) berbondong-bondong ke rumah. Sampai di situ aku pun belum merasa ada yang aneh. Aku pikir mereka biasanya dateng berbondong-bondong gitu kan kalau mau minta diajarin Biologi. (Tapi aku ngerasa bodo banget, mana mungkin mereka minta diajarin Biologi?! Ulangan aja kagak..)
Aku baru ngeh waktu dua orang temanku, eh ‘macan-macan’ku datang membawakanku kue tart kecil berhias lilin yang gede. Djayus. Mereka adalah Janice dan Mutiara. Dua orang temanku ini sudah jadi soulmate-ku sejak aku terjerumus dalam dunia SMA. Kami menamai diri kami TRIO NGGENDONG MACAN, karena kami cewek-cewek tangguh, cerdas, ‘garang’, berpengaruh. dan yang penting, lebih kuat dari macan, lha wong kita bisa nggendong macan! Hehe.
Kembali ke topik semula. Akhirnya mereka semua menyanyikan lagu Happy Birthday walaupun agak nggak kompak. Aku cuma bisa bilang, “Siapa yang ulang tahun?! Aku nggak ultah hari ini.. Aku nggak ultah hari ini!” Yah… mereka pasti tahu kalau memang bukan hari ini hari ulang tahunku. Enam hari yang lalu tepatnya aku sudah 17 kali berotasi mengelilingi matahari sejak aku lahir di dunia ini. Aku semapat kecewa, sedih, dan menangis mengapa teman-teman terbaikku tidak mengingat hari ulang tahunku. Childish memang. Namun aku merasa ucapan dari mereka sangatlah berarti. Tapi mengapa justru teman-temanku yang ‘jauh’ yang ingat hari ulang tahunku, aku tak habis pikir. Namun semua itu sama sekali tidak terbukti di hari ini. Hari paling memalukan dan mengharukan sepanjang hidupku.
Setelah memberiku kue tadi, Muti dan teman-teman sepertinya sudah menyiapkan suatu tindak kejahatan. Baunya terasa. Mataku ditutup dengan syal. Mereka bilang, mereka telah menyiapkan 17 kado untukku, tapi aku harus mencarinya sendiri dengan mata tertutup. Aku digiring keluar rumah. Diuruh maju 5 langkah lah, belok kiri lah, hadap kanan lah, jongkok lah, duduk lah, aku cuma bisa pasrah. Sepanjang aku mencari ke-17 kado itu, aku dikerjai habis-habisan. Awalnya disiram air dari selang rumahku. Brrr… aku merasa kedinginan. Nggak puas dengan itu, mereka membumbuiku dengan tepung, telur, kopi, atau apa lah aku nggak tahu karena aku ‘buta’ waktu itu.
Hingga aku mencari suatu kado, aku dicekoki ramuan setan buatan mereka. Dengan mata tertutup, aku berusaha meyakinkan mereka kalau aku kuat. Aku minum ramuan setan itu satu botol sampai habis, padahal aku nggak disuruh nghabisin. Bodohnya aku. Rasanya asin pake’ banget, mungkin dicampur kecap, sambel, bumbu indomie, atau apalah aku nggak tahu. Aku minum sampai habis. Ah..itu sih cetek! Tak lama kemudian aku bersendawa cukup keras, “HEEEEEGH!!!” Puas?! Huahahaha! Dalam kegelapan aku terus digiring ke sana kemari. Karena di depan rumahku berhamburan pohon-pohon pisang, aku dijerumuskan di dalamnya untuk mencari kado. Dengan kaki telanjang dikelitiki kerikil dan gatal-gatal oleh rumpiyt liar aku terus maju.
Satu per satu aku sudah mendapatkan kado-kado jahanam itu. Aku pasrah. Aku merasa seperti seorang perawan di tangan para algojo. Tapi aku bahagia dalam hati, nggak masalh lah, itung-itung sekali seumur hidup. Aku digiring untuk maju, maju, maju, maju, dan ma…BYUUUR! Aku sukses masuk got. Baunya sih nggak masalah, tapi aku merasakan kakiku yang jemek-jemek dingin, geli-geli lucu. Mereka meneriakiku, “Duduk! Duduk! Ayo duduk! Nanti kan dapet kadonya! Ayo cepet!” Masa’alah, tegane se.. Aku yang kedinginan sempat kebelet pipis dan keceplosan pipis (sedikit) di celana. Jorok.
Dimentaskan dari got, mereka semakin bertambah liar bagaikan kuda binal. Aku disuruh tiduran di jalanan paving depan rumahku, terlentang dengan kedua tangan terbuka. “Ayo posenya kaya’ Tuhan Yesus waktu disalib!” Aku menurut. “Baik, Yang Mulia..” “Ayo sekarang mangap!” Aku meringis, kuperlihatkan deretan gigi-gigiku. Mereka kembali mencekokiku dengan ramuan setan, tapi kali ini setannya udah tobat jadi ya nggak terlalu mematikan, cuma kopi campur teh mungkin. Belum selesai, aku ditetesi sesuatu yang kental berlendir, hambar, mungkin telur mentah aku nggak tahu, untung nggak aku telan. “Sebagai imbalannya ini kadonya…” Dua kado diletakkan di kedua genggaman tanganku. Entahlah, saat itu aku berpikir dimana aku menyembunyikan mukaku ini karena pasti aku jadi tontonan gratis para tetangga. -,-’
Sepertinya mereka belum puas. Tiba-tiba aku mendengar suara motor menderu yang mendekat. Mereka berteriak, “Itu ***i, itu ***i! Beneran La! Sumpah!” Sontak seketika itu juga aku merasa ketakutan dalam hati. Orang itu adalah orang yang aku takuti. Speechless. Aku diam seribu bahasa. Dia datang juga tanpa seribu bahasa, dia menyalamiku dan memberikan hadiah selanjutnya berupa sepasang anting. Dia sendiri yang memakaikannya untukku. Aku masih terdiam. “Ayo La, bilang dong, terima kasih ***i…” Sedikit terpaksa, aku menurut. Aku sama sekali tak ingin mengacaukan suasana.
Akhirnya, penderitaan telah usai. Ke-17 kado telah aku dapatkan. Mereka mengizinkanku membuka penutup mataku. Aku membukanya dan tepat di depan mataku, orang itu adalah… “Bang Ginno Rodriguez!!! Hyaaaaa!!!! Kurang ajar! Kamu ngerjai ya?!” Itu ‘abang’ku yang gokil. Aku masih setengah nggak percaya kalau itu Bang Ginno. Rasanya pengen meluk, tapi dia udah ada yang punya. Lagian masa’ mau dia meluk aku yang bau dan berlendir itu. Usut punya usut, ternyata semua itu by accident alias nggak disengaja. Bang Ginno yang kebetulan lewat depan gang rumahku melihat ada chaos di sana, digebernya motor kesayangannya dan menuju ‘tempat penghakimanku’. Jadilah dia surprise yang surprise! ‘Luv’ u Bang.. haha.
Tak lama kemudian hujan gerimis mengguyur rumahku, teman-temanku pun mreteli satu per satu. Dalam hati aku bersyukur, saved by the rain, thanks God! Hingga tersisa dua algojo, Muti dan Tan. Mereka menungguiku sampai aku membuka ke-17 kado ultahku. Semuanya berwarna kuning, warna kehidupanku. Sampai aku membuka kado ke-17 berupa kartu ucapan yang di baliknya terpampang 3 wajah tanpa dosa yang tak lain dan tak bukan adalah otak dari kejahatan ini. Siapa lagi kalau bukan Muti, Janice dan Tan. Masih dalam keadaan jorok aku berterima kasih pada kedua ‘teman tapi monyet’ ku itu.
Perasaanku hari ini campur aduk selayaknya ramuan setan tadi.
BAHAGIA
TERHARU
THANKFUL
MALU
JOROK
PASRAH
BINGUNG
MERASA LEMAH
DAG DIG DUG
BASAH
JEMEK
KEDINGINAN
KEBELET PIPIS
MULES
Ya! Mules! Entah senyawa apa yang dicampurkan dalam ramuan setan itu, dulcolax, garam Inggris, pencahar, atau apa lah aku tak tahu. Yang jelas, mereka telah membuatku mules dengan sukses! Mencret cap kampret! Aku mendekam di kamar mandi, menderita aku ee’ air. Ditambah meriangku sepertinya kumat lagi. Aku butuh tiga gelas besar teh panas untuk mengembalikan suhu tubuhku ke angka 27. Ya Tuhanku kasihanilah daku…
Namun aku melihat ini semua bukan sebagai penderitaan, tapi sebuah perhatian. Terima kasih banyak teman-temanku. Aku nggak akan lupa perbuatan kalian. Tuhan ampunilah mereka karena mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat. huehehehe. Bukan. Thanks God udah memberikan teman-teman yang berarti dalam hidup Lala. Best friend forever! Make this moment everlasting… ( 09/01/09 )
