YANG MAU NGHADAPIN UNAS, WAJIB BACA! ^^
Buat teman-temanku tercinta yang mau nghadapin UNAS di seluruh pelosok tanah air.
Apakah kalian lagi stres?
Depresi?
Pusing?
Takut?
Sebel sama try out yang bertubi-tubi?
Tenang..kalian banyak temennya kok, termasuk aku. Hehehe
UNAS tinggal hitungan hari lagi, nggak sampe sebulan. Sekolah juga uda ngasi kita try out banyak kali (sampe ada yang 10 kali ya? Ckckck) dengan harapan kita bisa lulus di UNAS entar. Ada lo temen kita di luar sana yang saking stresnya sampe masuk rumah sakit dan, yang aku denger sendiri dari sumber berita, ada yang bunuh diri! Tapi namanya juga pemerintah, pasti berita ini nggak disebarluasin lantaran takut jadi keresahan sosial malah jadi runyam dan sepertinya pemerintah juga lebih sibuk kampanye, nyiapin Pemilu, koar-koar di TV, daripada harus pusing mikirin anak-anak SMA yang mau UNAS. Tul ga? =p
Aku sendiri juga ngerasa bingung dan sedih kalau lihat temen-temenku pada frustasi tiap kali mau try out, ngelihat nilai try out, atau lihat countdown UNAS tinggal XX hari lagi. Tapi aku juga ngerasa sedih dan prihatin kalau lihat temen-temenku yang santai-santai aja menjelang UNAS, sok cuek bebek dapet nilai bebek (baca: 2) di try out mereka, lebih mentingin smsan daripada belajar, sibuk nge-add facebook ato friendster daripada persiapin UNAS, atau lebih milih ngacir ke mall terdekat daripada ikut bimbel. Ya, aku tahu. Mereka memang wajar kalau nggak sepanik dan sewas-was itu, dengan berbekal duit minimal 300ribu di tangan, merka udah bisa beli jawaban UNAS yang dijamin lulus tapi nggak ada garansinya. Nggak usah nyari jauh-jauh, penjualnya temen-temen terdekat kita kok. Di setiap kelas pasti ada. Percaya de. Itu udah bukan lagi rahasia. Sekolah? Mereka tahu kok! Paling sekolah juga diem-diem aja mengingat yang diinginkan adalah label “SMA XXXX Lulus 100%”, mereka nggak peduli dicap “SMA XXXX Nyontek 100%”. Aku pengen share pengalamanku yang aku harap bisa lebih nyemangatin kalian menjelang UNAS.
Setahun yang lalu, waktu aku kelas XI, aku ikut lomba Newspaper Design yang diadain DetEksi Mading Championship. Waktu itu aku bingung mau ambil topik apa yang newsworthy tapi nggak basi. Langsung aja aku comot tema UNAS, yang waktu itu sempat bingung bakalan 3 atau 6 mata pelajaran. Kakak-kakak kelas XII dibikin cemas kalang kabut mengingat keputusan pemerintah yang lamban dan gonjang ganjing. Maklum, masih penuh pro dan kontra saat itu. Jadi aku berinisiatif untuk langsung tanya ke sumber informasi yaitu Kepala Dinas Pendidikan Provinsi yang kantornya di deket Tunjungan Center (lupa nama jalannya, hehe.) Kepergianku ke sana juga direstui dan didukung penuh oleh teman-temanku, mereka juga ‘nitip’ protes ke DikNas. Karena waktu itu, kami merasa UNAS percuma, bikin stres, nggak valid, buang duit (bayar juga lo UNAS tu!), bla bla bla bla. Dulu sempat heboh, siswa yang diterima di universitas luar negeri justru nggak lulus gara-gara UNAS, padahal jelas mereka yakin bisa. Bagaikan panas setahun dihapus hujan sehari, sekolah tiga taun dihapus UNAS tiga hari.
Waktu itu, aku juga nggak setuju sama yang namanya UNAS. Kalau ujung-ujungnya siswa bisa nyontek gara-gara ada bocoran soal, jual jawaban, atau pengawas yang pura-pura nggak tahu kalau siswanya nyontek, toh UNAS juga nggak akan bisa mencetak kualitas SDM yang baik. Ya kan? Dalam keberangkatanku ke kantor DikNas, aku uda siap-siap membombardir siapapun Kepala Dinas itu dengan kritikanku yang bertubi-tubi. Aku sudah membayangkan wajah si Kepala Dinas yang menyebalkan, sok tahu, cuek, pokoknya yang jelek-jelek.
Sesampainya di sana, aku bertemu dengan beliau. Dengan intro basa-basi, kami mengungkapkan maksud kedatangan kami, wawancara. Aku udah ambil ancang-ancang buat nyampein maksud hati. Tapi begitu pertanyaan pertama tentang UNAS, wajah Pak DikNas (anggep aja itu namanya.) langsung berubah. Antara pasrah, merasa lemah, berserah, sedih, atau apa aku nggak tahu. Tapi yang pasti aku masih ingat jawaban beliau.
Pemerintah juga lagi bingung gimana caranya mengatasi problematika pendidikan di Indonesia. Kita semua tahu, kalau Malaysia yang dulu pendidikannya masih tertinggal justru sekarang lebih maju dari Indonesia. Mereka bisa, kenapa kita nggak? Pemerintah selalu berusaha meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia, tapi beberapa sekolah nggak bisa diajak kerjasama buat mewujudkan harapan itu. Banyak sekolah yang asal-asalan terima murid, ngelulusin siswa, pokoknya dapet duit SPP, beres sudah. Kalau gitu caranya gimana Indonesia bisa maju kalau terus-terusan gitu?! Indonesia kan juga nggak cuma Jawa doang, masih banyak daerah-daerah terpencil yang butuh kemajuan, terutama di bidang pendidikan. Jadi UNAS dibuat berdasarkan asas STANDARISASI.
Melihat ekspresi Pak DikNas dan penjelasannya yang sederhana tapi mengena, aku dibuatnya speechless. Beliau menceritakan bagaimana pemerintah dibuat pusing oleh hal itu. Pemerintah juga nggak asal ngambil keputusan tanpa pertimbangan yang matang. UNAS sudah melibatkan banyak pihak, dari ahli pendidikan sampai murid itu sendiri. Apa jadinya jika nggak ada UNAS? Sekolah asal meluluskan siswa. Siswa belajar asal-asalan. Dan yang bisa lebih parah, pendidikan bisa dibeli dengan uang. Cause money can buy anything, right?
Rasioku juga udah mulai jalan sejak pertemuanku dengan Pak DikNas. Kalo kita emang bener-bener qualified alias sungguh-sungguh blajar selama tiga tahun kita di sekolah, buat apa ngerasa takut sama UNAS?! Materi UNAS cuma sebagian kecil dari yang kita dapetin selama di sekolah. Jadi apa susahnya? Kecuali kalo selama di SMA kalian hobi nyontek, tidur di kelas, bolos, dan tindakan asusila lainnya, hehehe. Wajar kalo kalian semua takut sama UNAS. Asal kita mau belajar, nggak nyerah, dan berserah sepenuhnya sama Tuhan, toh nggak akan jadi masalah. Kita harus buktiin kalo kita bukan anak SMA sembarang anak SMA. Kalau kita yakin sama semua ini, jujur, rajin, percaya diri, kita nggak akan cuma sukses di UNAS, tapi juga sukses sepanjang hidup kita. Amin.
Walaupun banyak pro dan kontra, UNAS juga tetep aja terjadi. Toh, terus-terusan protes juga bukan jalan keluar. Nyontek ato beli jawaban juga bukan penentu kita sukses UNAS. Aku menganggap ORANG YANG SUKA NONTEK TU ORANG YANG NGAKUIN DAN NUNJUKIN KALO DIRINYA BODOH. Jadi, apa yang harus kita lakukan? Ya belajar… ORANG BISA KARENA BIASA. Kalau kamu sering latian pasti bisa kok! I’m absolutely sure!
Leave comment yah! Aku mau tau komnetar kalian seputar UNAS.. SMANGAT BLAJAR YA! o(^^)0
STR said,
March 24, 2009 @ 6:02 am
Unas memang diselenggarakan atas asas standarisasi. Kalau begitu, pertanyaannya gampang saja, perlukah pendidikan distandarisasi? Kalau perlu, standarnya siapa? Standar Jakarta?
Pendidikan merupakan salah satu proses kebudayaan. Dan dimanapun itu, tidak ada budaya yang berkembang dengan standarisasi sepihak yang diklaim “nasional”. Semua budaya berkembang dengan konteksnya masing-masing.
Unas cuma salah satu konsekuensi logis dari sistem pendidikan nasional kita yang tendensinya menyeragamkan pendidikan dari Sabang sampai Merauke. Mulai dari seragam, sampai materi pelajaran. Kalau semuanya sudah seragam, maka evaluasinya juga kena penyeragaman. Dan semakin diseragamkan, semakin cepat pula rejim pendidikan sekarang meruntuhkan dirinya sendiri.
Jadi, maksud Pemerintah mungkin baik ya: meningkatkan mutu pendidikan. Tapi, yang aku lihat, cara yang mereka tempuh salah kaprah dan kontraproduktif.
lala said,
March 25, 2009 @ 9:24 pm
nanggepin kak STR ni.. hehe.
Standarisasi di sini juga ga selalu semua bobot dan tingkat kesulitan UNAS di seluruh daerah di Indonesia dari Sabang sampai Merauke harus sama. Tentu aja nggak. Ada yang namanya rayonisasi. Anak SMA di Jayapura nggak akan dapet soal UNAS sesulit anak SMA Jakarta. SMA di pedalaman juga nggak akan dapet soal yang sama kaya’ SMA berstandar internasional. Bahkan, tiap soal punya bobot dan grade masing-masin. Itu sistem UNAS yang sudah ada.
Trus solusinya menurut Kaka apa? ^^
STR said,
March 27, 2009 @ 3:58 pm
Aku juga tahu, rayonisasi itu udah ada dari dulu. Tapi sejauh mana kustomisasi lewat rayonisasi itu bisa mengakomodir keragaman Sabang-Merauke? Kalau hal itu cuma menyentuh hal-hal teknis prosedural, aku nggak heran kalo evaluasi kita tetap “jalan di tempat”.
Aku lagi nulis makalah “Mendidik Manusia”. Masih agak lama selesainya karena banyak banget bahan yang harus dibaca. Tapi sampai sejauh ini, kesimpulan sementaraku berpendapat bahwa evaluasi belajar yang penilaiannya berada pada otoritas pihak non-murid (semisal guru, negara, sekolah, dll) mesti dijauhkan dari praktik-praktik yang terlalu mekanis-deterministis (pilihan ganda, benar-salah), formal-birokratis (hari, bulan, jam, tempat, atribut bin dress code ditentukan), dan semua bentuk kekakuan lainnya.
Aku membayangkan evaluasi dengan bentuk penulisan esai atau paper yang penentuan topiknya diserahkan pada apa yang jadi minat siswa, dengan waktu penulisan sebulan atau dua bulan dan bimbingan dari guru yang memang niat plus hati membimbing dengan sabar. Asumsiku, manusia adalah makhluk organis yang penuh dengan kemungkinan-kemungkinan, termasuk daya kreatif dan imajinatif. Manusia bukan mesin.
Gimana menurutmu?